Skip to main content

Blog entry by Hasan Hasan

Bangun Rumah Pakai Gaji: Tanpa Hutang, Tanpa Pusing

Bangun Rumah Pakai Gaji: Tanpa Hutang, Tanpa Pusing

Dulu, setiap kali melihat brosur perumahan, saya selalu merasa cemas melihat kolom bunga yang hampir menyamai harga pokok rumahnya. Rasanya seperti membeli satu rumah untuk diri sendiri dan satu rumah lagi untuk bank. Itulah titik balik di mana saya memutuskan untuk tidak menempuh jalan KPR dan memilih jalur mandiri: membangun rumah sedikit demi sedikit dengan kekuatan finansial yang saya miliki saat itu.

Manajemen tenaga kerja menjadi salah satu kunci terbesar agar dana saya tidak habis di tengah jalan. Saya tidak menggunakan kontraktor besar, melainkan mencari tukang lokal yang punya reputasi jujur dan bisa diajak berdiskusi soal anggaran. Saya turun langsung menjadi mandor proyek pribadi saya sendiri. Dengan hadir di lokasi setiap hari untuk memantau penggunaan semen dan bata, saya bisa meminimalisir sisa material yang terbuang sia-sia akibat pengerjaan yang tidak efektif.

Strategi "investasi fisik" juga saya jalankan dengan sangat disiplin. Setiap kali ada sisa gaji atau rezeki nomplok, saya segera menukarnya dengan barang yang tahan lama seperti besi beton, batu bata, atau pasir. Menyimpan material di lahan sendiri terasa jauh lebih menguntungkan daripada menyimpan uang di bank yang nilainya perlahan terkikis inflasi. Ketika harga material bangunan di pasar sedang naik gila-gilaan, saya tetap tenang karena stok barang saya sudah aman terkumpul di lokasi pembangunan.

Dalam masa-masa sulit, saya sering mencari dorongan semangat dengan membaca berbagai kisah inspiratif membangun rumah dari orang-orang yang senasib. Dari sana, saya belajar bahwa memiliki rumah cantik tidak harus selalu menggunakan material baru dari toko. Saya mulai berburu ke tempat bongkaran gedung untuk mencari pintu kayu solid atau jendela kaca berbingkai kayu jati yang masih sangat kokoh. Material "pre-loved" ini tidak hanya lebih murah hingga 50 persen, tapi juga memberikan sentuhan estetika klasik yang unik pada hunian saya.

Konsep rumah tumbuh menjadi penyelamat psikologis saya. Saya memendam jauh-jauh rasa ingin pamer rumah mewah yang langsung jadi. Prioritas saya adalah menyelesaikan satu kamar, satu kamar mandi, dan dapur sederhana agar rumah bisa segera ditinggali. Begitu saya pindah, biaya yang tadinya untuk membayar sewa kontrakan langsung saya kunci untuk membiayai tahap pembangunan selanjutnya. Tidak ada paksaan, semua berjalan sesuai dengan nafas finansial saya.

Membangun tanpa bantuan bank memang menuntut kesabaran yang luar biasa luas. Ada saat-saat pembangunan berhenti total selama berbulan-bulan karena saya harus fokus menabung kembali, dan itu sama sekali bukan masalah. Jauh lebih baik melihat proyek berhenti sejenak daripada dipaksa membayar bunga cicilan saat kondisi ekonomi sedang tidak stabil. Sekarang, rumah itu sudah berdiri megah, dan setiap sudutnya memberikan rasa damai karena saya memilikinya sepenuhnya tanpa sisa utang sedikit pun.


  • Share

Reviews